Lailatul Ijtima’ PRNU Glundengan 3 Meneladani Zuhud Rasulullah dan Perkuat Kaderisasi Banom
Fatayatnujember.com- Keluarga besar Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama (PRNU) Glundengan 3 kembali menggelar kegiatan rutin Lailatul Ijtima’ pada Selasa malam Rabu (12/5/2026). Bertempat di Sekretariat Glundengan 3, MIMA Darus Salam, acara tersebut berlangsung khidmat dan menjadi ajang penguat silaturahmi antarbanom serta warga Nahdliyin.
Puluhan jemaah tampak memadati lokasi kegiatan sejak awal acara. Kehadiran seluruh jajaran Badan Otonom (Banom) NU menjadi bukti nyata soliditas dan kecintaan warga terhadap organisasi serta majelis ilmu.
Rangkaian acara dibuka dengan tawasul dan istighosah yang dipimpin oleh Ustadz Khobarudin. Suasana semakin religius saat Ustadz Mawardi memimpin lantunan selawat. Puncaknya, saat mahalul qiyam berkumandang, seluruh jemaah berdiri dengan penuh kekhusyukan sebagai bentuk mahabbah kepada Baginda Rasulullah SAW.
Setelah dibuka secara resmi oleh Ustadz Roziqin, agenda utama dilanjutkan dengan pembacaan kitab oleh Kiai Ali Gufron selaku Syuriyah PRNU Glundengan 3. Dalam tausiyahnya, Kiai Ali Gufron mengupas tuntas mengenai makna zuhud.
“Zuhud itu bukan berarti kita tidak boleh memiliki harta dunia, melainkan tidak menjadikan dunia sebagai tujuan utama di dalam hati,” urai beliau.
Beliau mencontohkan kesederhanaan Rasulullah SAW yang pernah tidur di atas tikar kasar hingga membekas di tubuhnya. Selain itu, Kiai Ali juga menekankan pentingnya hakikat takwa, yakni menjalankan segala perintah Allah dan menjauhi seluruh larangan-Nya dalam kehidupan sehari-hari.
Ketua LAZISNU Glundengan 3, Bapak Mubabahul Husah, dalam sambutannya menyampaikan sejumlah informasi strategis organisasi. Beliau menyoroti progres pembangunan kanopi di MWCNU Wuluhan serta pentingnya tertib administrasi bagi jajaran Tanfidziyah guna menghadapi penilaian kinerja MWC.
Lebih jauh, ia memberikan catatan serius terkait keberlangsungan Banom dan lembaga di tingkat ranting. Isu regenerasi kader menjadi poin utama yang ditekankan.
“Regenerasi adalah napas organisasi. Di Muslimat NU, banyak sesepuh yang telah wafat, maka diperlukan semangat kaderisasi baru. Begitu juga dengan IPNU dan IPPNU yang harus kembali digerakkan secara aktif,” tegasnya.
Ia pun mengajak para orang tua dan wali santri untuk mendorong putra-putri mereka aktif di IPNU-IPPNU sebagai bekal mental berorganisasi dan benteng perjuangan di masa depan.
Acara ditutup dengan doa bersama yang dipimpin oleh Ustadz Muslimin. Meski sesi formal berakhir, kebersamaan para jemaah berlanjut dalam sesi ramah tamah yang diiringi selawat. Suasana kekeluargaan yang hangat menyelimuti penghujung malam di Glundengan 3.
Kegiatan Lailatul Ijtima’ ini, diharapkan ukhuwah Islamiyah antarwarga NU semakin erat, sekaligus memicu semangat baru untuk membawa NU Ranting Glundengan 3 semakin maju dan mandiri.
Kontributor: Usfiyatul Jannah
Editor: Rina Gita

