Lailatul Ijtima’ Jadi Ruang Penguatan Iman dan Kepedulian Sosial, Kiai Ingatkan Bahaya Gaya Hidup Mewah
Fatayatnujember.com – Tradisi Lailatul Ijtima’ yang menjadi salah satu ciri khas warga Nahdlatul Ulama (NU) kembali digelar pada Selasa malam Rabu Kliwon (21/7/2026). Kegiatan yang dihadiri puluhan jamaah Muslimin, Muslimat, serta jajaran badan otonom (Banom) NU ini tidak hanya menjadi ajang mempererat silaturahmi, tetapi juga memperkuat spiritualitas dan kepedulian sosial di tengah tantangan kehidupan modern.
Rangkaian kegiatan diawali dengan pembukaan oleh Ustadz Roziqin, dilanjutkan pembacaan tawasul dan istighotsah yang dipimpin Ustadz Muslimin. Suasana semakin khusyuk saat Ustadz Wardi memimpin pembacaan Mahalul Qiyam dan shalawat bersama sebagai bentuk kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW.
Puncak acara diisi pengajian kitab oleh Kiai Ali Ghufron. Dalam tausiyahnya, ia mengingatkan jamaah agar tidak terjebak dalam gaya hidup mewah yang berlebihan karena dapat melemahkan keteguhan iman.
“Kemewahan sering kali membuat seseorang hanya terbiasa dengan kenyamanan. Ketika diuji, ia menjadi rapuh, bahkan tidak sedikit yang rela mengorbankan prinsip agama demi memenuhi ambisi duniawi,” ujar Kiai Ali Ghufron di hadapan jamaah.
Menurutnya, Islam mengajarkan keseimbangan antara kehidupan dunia dan akhirat. Dunia hanyalah sarana untuk mengumpulkan bekal menuju kehidupan yang kekal. Karena itu, umat Islam perlu memperkuat iman dan membiasakan diri hidup sederhana.
Sebagai teladan, Kiai Ali Ghufron mengangkat sosok Syekh Abdul Qadir al-Jailani yang dikenal memiliki kekayaan, tetapi memilih menjalani kehidupan dengan penuh kesederhanaan dan ketakwaan.
Ia juga menyampaikan dua langkah penting agar umat tidak mudah terjebak dalam gemerlap dunia, yakni terus memperkuat iman melalui majelis ilmu dan dzikir serta menanamkan sifat qanaah, yaitu menerima rezeki dengan lapang dada sembari tetap berikhtiar secara halal dan menjadikan seluruh aktivitas sebagai bentuk ibadah kepada Allah SWT.
Selain pengajian, kegiatan juga diisi sambutan yang mengajak jamaah meningkatkan kepedulian sosial melalui gerakan infak. Mubah, salah satu tokoh yang hadir, mengajak warga Nahdliyin untuk menghidupkan budaya berbagi melalui kotak infak masjid maupun program Kotak Infak LAZISNU yang dikelola secara mandiri di lingkungan masing-masing.
Ia juga mengingatkan pentingnya kebersamaan dalam menyambut Hari Santri Nasional yang akan diperingati pada 22 Oktober mendatang sehingga diperlukan dukungan dan partisipasi seluruh warga Nahdliyin.
Kegiatan ditutup dengan doa yang dipimpin H. Muhari, pengasuh Mushala Al-Islah, dilanjutkan pembacaan shalawat dan ramah tamah. Menariknya, seluruh jamaah turut menerapkan budaya “Aksi Beres” (Berangkat dan Pulang Bersih) dengan memastikan lokasi kegiatan kembali bersih dan rapi sebelum meninggalkan majelis.
Tradisi Lailatul Ijtima’ tidak hanya menjadi ruang memperdalam nilai-nilai keislaman, tetapi juga memperkuat semangat gotong royong, kesederhanaan, dan kepedulian sosial yang terus dijaga oleh warga Nahdlatul Ulama di berbagai daerah.
Kontributor: Usfiyatul Jannah
Editor: Nasilah

