Serenada Daun Emas dari Lereng Argopuro: Potret Keteguhan Petani Tembakau Jember di Tengah Tantangan Zaman

Fatayatnujember.com- Dari lereng Gunung Argopuro di Kecamatan Jelbuk, Kabupaten Jember, Jawa Timur, mengalun kisah tentang dedikasi dan keteguhan hati para petani tembakau. Saat Oktober tiba dan panen raya usai, suasana desa berubah hening. Di beranda rumah hingga gudang-gudang kecil, daun-daun tembakau menguning tergantung rapi — bak daun emas yang menyimpan harapan.

Bagi masyarakat Jelbuk, tembakau bukan sekadar tanaman ekonomi. Ia adalah warisan budaya, sumber kehidupan, sekaligus lambang perjuangan. Seperti diungkapkan Rohmah Nurul Faiqoh, S.Pd., pemerhati sosial dan budaya Jember, “Serenada daun emas dari lereng Argopuro ini sesungguhnya adalah lagu panjang tentang ketekunan. Dari denting cangkul hingga lembaran tembakau yang dijemur, setiap prosesnya adalah bentuk cinta para petani terhadap tanah dan tradisi.”

Para petani di kawasan ini menjalani ritual tahunan yang sama: menanam, merawat, dan memanen dengan penuh kesabaran. Tanah vulkanis Argopuro yang subur memberi hasil berkualitas tinggi, menjadikan Jember sebagai salah satu sentra tembakau terbaik di Indonesia, bahkan dunia. Namun di balik kemilau “daun emas” itu, tersimpan nada-nada getir tentang nasib dan ketidakpastian harga.

“Petani tembakau tidak bisa menentukan nilai jual sendiri. Harga sering kali dikendalikan oleh tengkulak dan industri besar,” tutur seorang petani di Desa Panduman, Jelbuk. “Kami hanya bisa berharap hasil panen tahun ini mendapat harga layak.”

Selain fluktuasi harga, tantangan lain datang dari perubahan iklim dan menurunnya minat generasi muda untuk menjadi petani. Kondisi cuaca yang tak menentu membuat kualitas daun mudah menurun, sementara regenerasi petani kian menipis.

Meski begitu, bagi masyarakat Jelbuk, berhenti bukan pilihan. Mereka percaya, menjaga keberlangsungan tembakau sama dengan menjaga identitas dan martabat daerah.

“Daun emas dari Argopuro bukan sekadar komoditas ekspor,” tegas Rohmah. “Ia adalah manuskrip budaya yang mencatat kehidupan para petani, dari kerja keras, harapan, hingga perjuangan mereka melawan zaman.”

Ke depan, dukungan pemerintah daerah dan industri diharapkan dapat memperkuat posisi petani dalam rantai nilai tembakau, sekaligus membuka ruang regenerasi yang lebih sehat dan berkeadilan.

Sebab di setiap helai daun tembakau yang menguning itu, tersimpan serenada kehidupan yang layak untuk terus didengar — bukan hanya oleh pasar, tetapi juga oleh bangsa.

Penulis: Penulis: Rohmah Nurul Faiqoh
Editor: Nasilah

0Shares

Similar Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *