Merajut Harmoni di Tengah Perbedaan: Potret Toleransi dari Bumi Semboro

Fatayatnujember.com- Sebuah momen sarat makna tercipta di Desa Rejoagung, Kecamatan Semboro. Jajaran Fatayat PAC Semboro, bersama MWCNU dan Muslimat, memenuhi undangan istimewa dari Komisi Pembinaan Peran Wanita (KPPW) Jemaat GKJW Rejoagung untuk melaksanakan buka puasa bersama.

Momen yang mengusung tema “Katresnan” (Kasih Sayang) ini terasa kian hangat dan spesial. Pasalnya, dalam dua tahun terakhir, bulan suci Ramadhan beriringan dengan masa puasa Paskah yang dijalani umat Kristiani. Pertemuan ini bukan sekadar jamuan makan, melainkan saksi bisu bertemunya dua ibadah dalam satu semangat persaudaraan yang tulus.

Kehangatan acara ini turut dihadiri oleh berbagai elemen penting. Selain Banom NU, tampak hadir jajaran Muspika Semboro mulai dari Camat, Kapolsek, hingga Danramil serta tokoh masyarakat dan perangkat pemerintah daerah. Kehadiran para tokoh ini mempertegas dukungan pemerintah terhadap penguatan kerukunan umat beragama di tingkat akar rumput.

Dalam suasana yang penuh kekeluargaan, Pendeta Rena menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih yang mendalam. Beliau memuji pemerintah kecamatan serta seluruh masyarakat Semboro atas toleransi dan penerimaan yang luar biasa terhadap jemaat GKJW Rejoagung.

Sebagai satu-satunya desa dengan mayoritas penduduk beragama Kristen di wilayah Semboro, warga Rejoagung mengaku bersyukur dapat menjalankan ibadah dengan tenang.

“Kami mewakili seluruh jemaat berterima kasih karena dapat beribadah tanpa rasa khawatir atau terganggu sedikit pun,” ungkap Pendeta Rena.

Semangat persatuan ini ditegaskan kembali oleh Bapak Fauzi, Camat Semboro. Dalam sambutannya, beliau menitipkan pesan kuat mengenai pentingnya merawat kemajemukan.

“Toleransi harus kita jalankan dan perbedaan wajib kita hormati. Inilah kunci agar kita dapat hidup berdampingan dalam negara yang penuh keragaman,” tegasnya.

Apa yang terjadi di Rejoagung merupakan bukti konkret bahwa prinsip Islam Rahmatan Lil ‘Alamin telah membumi. Sebuah prinsip yang mengajarkan keteguhan dalam keyakinan pribadi, namun tetap membuka ruang penghormatan yang luas bagi keyakinan sesama.

Acara ini menjadi potret nyata kedewasaan beragama sekaligus keberhasilan program Moderasi Beragama yang dicanangkan pemerintah. Di Semboro, perbedaan bukan lagi menjadi pemisah, melainkan warna yang memperindah jalinan kebangsaan kita.

Kontributor : Khoridatul Ulum
Editor: Rina Gita

0Shares

Similar Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *