Gunung Gambir, Dari Hamparan Teh di Atas Awan Menuju Wisata Berkelanjutan
Fatayatnujember.com- Kebun Teh Gunung Gambir di Desa Gelang, Kecamatan Sumberbaru, Jember, adalah sebuah kanvas hijau alami yang layak menyandang predikat sebagai salah satu destinasi unggulan Jawa Timur. Berada di lereng megah Gunung Argopuro, kawasan ini menawarkan perpaduan langka antara keindahan alam yang memanjakan mata dan udara sejuk khas pegunungan di ketinggian sekitar 900 meter di atas permukaan laut. Dalam pandangan kami, Gunung Gambir bukan sekadar kebun teh, ia adalah simbol potensi besar agrowisata Jember yang kini berada di persimpangan antara pengembangan pesat dan tantangan keberlanjutan.
Transformasi dari Agrowisata Menuju Destinasi Milenial
Daya tarik utama Gunung Gambir terletak pada hamparan kebun teh seluas 183 hektar yang tertata rapi. Pemandangan tea walk yang memungkinkan pengunjung menyusuri kebun, terutama saat kabut pagi menyelimuti, menghadirkan suasana layaknya “negeri di atas awan.” Keindahan alami ini menjadikan Gunung Gambir sebagai ruang rekreasi yang menenangkan sekaligus menginspirasi.
Dalam beberapa tahun terakhir, pengelola layak diapresiasi karena mampu beradaptasi dengan tren wisata modern. Mereka tidak lagi menjual pemandangan semata, tetapi menghadirkan pengalaman. Penambahan Jembatan Layang Klobungan serta berbagai spot foto Instagramable menjadi langkah cerdas untuk menarik wisatawan dari kalangan milenial dan keluarga.
Dengan tiket masuk yang sangat terjangkau (sekitar Rp10.000), ditambah fasilitas penunjang seperti gazebo, kantin, area berkemah, dan meeting room, Gunung Gambir berhasil bertransformasi dari sekadar perkebunan menjadi destinasi rekreasi multifungsi yang ramah pengunjung dan layak menjadi kebanggaan masyarakat Jember.
Opini Kritis: Tantangan Akses dan Keberlanjutan Lokal
Meski pesona Gunung Gambir begitu memikat, tantangan utama justru terletak pada faktor eksternal: aksesibilitas. Perjalanan menuju Desa Gelang, yang berjarak sekitar 60 kilometer dari pusat Kota Jember, masih menjadi ujian kesabaran bagi wisatawan. Jalan yang berliku, menanjak, dan relatif sempit membatasi kenyamanan, terutama bagi rombongan besar atau wisatawan yang belum terbiasa dengan medan pegunungan.
Pemerintah daerah perlu memprioritaskan perbaikan dan pelebaran akses jalan menuju lokasi. Langkah ini bukan sekadar pengeluaran, melainkan investasi penting untuk memastikan arus wisatawan berjalan lancar dan pertumbuhan ekonomi lokal dapat berkelanjutan.
Di sisi lain, geliat ekonomi masyarakat Desa Gelang menjadi kisah inspiratif yang perlu terus diperkuat. Gunung Gambir telah membuka lapangan kerja dan memberi peluang bagi warga setempat untuk mendirikan warung, kedai kopi, serta menjual produk olahan teh dan kopi lokal. Namun, agar manfaatnya lebih merata, penguatan kapasitas pelaku UMKM perlu dilakukan secara terencana, mulai dari pelatihan layanan wisata profesional hingga peningkatan standar kebersihan dan kualitas produk. Dengan demikian, pengembangan wisata tidak hanya menguntungkan pengelola besar, tetapi juga menumbuhkan kesejahteraan masyarakat sekitar.
Harapan: Menjadi Pusat Edukasi Teh Indonesia
Harapan terbesar bagi Gunung Gambir adalah bertransformasi menjadi pusat edukasi agrowisata teh terkemuka di Indonesia. Wisatawan sebaiknya tidak hanya pulang dengan hasil swafoto yang indah, tetapi juga membawa pengetahuan baru tentang proses dan budaya teh Nusantara.
Kegiatan edukatif seperti tur pabrik teh, workshop mencicipi teh (tea tasting), hingga pelatihan budidaya teh lokal bisa menjadi nilai tambah yang berharga. Dengan kombinasi antara warisan sejarah perkebunan era kolonial dan inovasi fasilitas modern, Gunung Gambir memiliki semua modal untuk menjadi contoh agrowisata berkelanjutan, yang menjaga kelestarian lingkungan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa.
Jember memiliki “emas hijau” ini, dan kini saatnya memolesnya agar bersinar lebih terang di peta pariwisata nasional. Gunung Gambir tidak hanya tempat rekreasi, tetapi juga ruang belajar tentang harmoni antara alam, ekonomi, dan masyarakat.
Penulis: Ihsania
Editor: Nurul Infitah

