Pengkaburan Nilai-Nilai Pondasi Bangsa: Tradisi Pesantren Harus Dipahami Secara Utuh
Fatayatnujember.com- Jember — Tradisi pesantren yang telah menjadi bagian penting dari kebudayaan dan pendidikan di Indonesia kini kembali menjadi sorotan publik. Tayangan salah satu stasiun televisi nasional dinilai menggiring opini yang menimbulkan pro dan kontra terhadap tradisi luhur di lingkungan pesantren.
Padahal, pesantren telah ada jauh sebelum Indonesia merdeka. Nilai-nilai yang tumbuh di dalamnya mencerminkan karakter bangsa yang santun dan beradab. Sikap hormat santri kepada kiai seperti berjalan jongkok di hadapan guru, menundukkan pandangan, serta berbicara dengan bahasa yang lembut merupakan wujud andhap asor dan tawadhu’, cerminan etika luhur yang diwariskan para ulama.
“Tidak ada yang salah dengan tradisi pesantren. Santri diajarkan untuk menghormati guru sebagai bentuk adab. Begitu pula para wali santri yang memberikan bisharoh kepada kiai, itu bentuk rasa terima kasih dan penghormatan, bukan hal yang berlebihan,” ungkap Ustadz abdul Hamid kepala TPQ Al Hamid Tanggul.
Menurutnya, proses membentuk karakter santri bukan perkara mudah, diiperlukan kesabaran, ketelatenan, dan tirakat panjang dari para kiai dan pengasuh pesantren. Karena itu, tayangan yang menampilkan narasi negatif terhadap pesantren dianggap tidak proporsional dan berpotensi merusak citra lembaga pendidikan Islam tradisional tersebut.
“Pesan dalam video yang ditayangkan oleh Trans7 menggiring opini publik yang bisa menyudutkan para ulama dan kiai. Ini berbahaya karena dapat mengaburkan nilai-nilai pondasi bangsa,” tegas Hamid.
Ia berharap, media nasional dapat lebih berhati-hati dan beretika dalam menyajikan informasi, terutama yang berkaitan dengan tradisi keagamaan dan lembaga pendidikan berbasis nilai-nilai Islam. “Sebelum publikasi, seharusnya dikaji dari berbagai aspek dan disampaikan dengan narasi yang etis serta berimbang,” pungkasnya.
Penulis: Indah Dewi Wulandari
Editor: Rina Sugiarti Dwi Gita

