Fatayat NU Mayang Bangkit Lewat Hadrah, Perkuat Peran Perempuan dalam Melestarikan Tradisi Islami
Fatayatnujember.com- Kebangkitan organisasi perempuan muda Nahdlatul Ulama kembali terlihat melalui langkah progresif yang dilakukan oleh Pimpinan Anak Cabang (PAC) Fatayat NU Mayang. Melalui program bertajuk “Fatayat NU Mayang Hadirkan Hadrah: Ruang Ekspresi Perempuan dalam Menjaga Tradisi”, organisasi ini menghadirkan ruang kreatif bagi perempuan untuk aktif berkarya sekaligus melestarikan tradisi seni islami berbasis shalawat.
Program hadrah tersebut menjadi salah satu upaya strategis Fatayat NU Mayang dalam menghidupkan kembali semangat organisasi setelah sempat mengalami masa vakum selama dua periode. Tidak hanya menjadi media seni dan dakwah, kegiatan ini juga diarahkan sebagai wadah pemberdayaan perempuan agar semakin percaya diri, aktif berorganisasi, dan memiliki kontribusi nyata di tengah masyarakat.
Latihan hadrah dilaksanakan secara rutin dua kali dalam sepekan. Kegiatan perdana digelar pada Senin, 22 April 2026, di kediaman sahabat Nuril Hasbi. Kehadiran seperangkat alat hadrah yang didonasikan langsung oleh Nuril Hasbi menjadi bentuk dukungan nyata terhadap kebangkitan organisasi sekaligus memperkuat solidaritas internal antaranggota.
Meski baru memulai latihan, grup hadrah Fatayat NU Mayang telah menerima undangan tampil perdana dari salah satu anggota. Hal tersebut menjadi motivasi tersendiri bagi para personel untuk terus meningkatkan kemampuan dan kekompakan demi memberikan penampilan terbaik di hadapan masyarakat.
Ketua PAC Fatayat NU Mayang, Ning Nurul Infitah, S.Pd., M.Pd., menegaskan bahwa kegiatan hadrah tidak hanya dimaknai sebagai aktivitas seni semata, melainkan bagian dari gerakan pemberdayaan perempuan berbasis nilai-nilai keislaman dan kebudayaan.
“Setelah dua periode vakum, kebangkitan Fatayat Mayang melalui hadrah ini harus diarahkan untuk pemberdayaan perempuan. Semoga shalawat yang dilantunkan mampu menggerakkan sahabat-sahabat untuk lebih percaya diri, aktif berorganisasi, dan mengambil peran nyata di masyarakat. Karena fokus Fatayat NU adalah perempuan berdaya untuk peradaban,” ujarnya.
Sementara itu, salah satu anggota, sahabat Emi, menilai kegiatan tersebut dapat menjadi identitas baru bagi Fatayat NU Mayang di tengah masyarakat. Menurutnya, keberadaan grup hadrah menjadi simbol bahwa organisasi perempuan muda NU tersebut tetap hidup, solid, dan aktif bergerak.
“Ini bisa menjadi branding bahwa Fatayat Mayang hidup, kompak, dan aktif, sekaligus mampu menarik minat perempuan lain untuk bergabung,” katanya.
Hal senada disampaikan oleh sahabat May selaku vokalis hadrah. Ia mengaku kegiatan tersebut memberinya kesempatan untuk kembali mengembangkan kemampuan vokal yang lama tidak diasah. Bahkan, beberapa perempuan telah menghubunginya secara pribadi untuk ikut bergabung dalam kegiatan hadrah tersebut.
Kehadiran program hadrah Fatayat NU Mayang menjadi bukti bahwa pelestarian tradisi islami dapat berjalan seiring dengan upaya pemberdayaan perempuan. Melalui seni shalawat, Fatayat NU tidak hanya menjaga warisan budaya keagamaan, tetapi juga membangun ruang kolaborasi dan penguatan kapasitas perempuan secara berkelanjutan.
Kontributor: Mawaddatul Jannah
Editor: Nasilah

