Kader Daiyah Fatayat Didorong Responsif dan Inspiratif Hadapi Tantangan Era Modern

Fatayatnujember.com- Upaya memperkuat peran perempuan muda dalam dakwah dan kepemimpinan sosial terus dilakukan organisasi perempuan Nahdlatul Ulama. Melalui kegiatan Super Tem Camp yang digelar PC Fatayat NU Jember di Aula PCNU Jember, Sabtu (23/5/2026), para kader daiyah didorong menjadi pribadi yang responsif, mandiri, dan inspiratif di tengah perkembangan era modern.

Kegiatan tersebut menghadirkan penulis novel Hati Suhita, Khilma Anis, sebagai narasumber utama dalam sesi penguatan kapasitas kader perempuan NU. Acara diawali dengan pembacaan 4.444 kali Sholawat Nariyah yang diikuti seluruh peserta sebagai ikhtiar spiritual untuk kelancaran kegiatan.

Dalam pemaparannya, Khilma Anis menegaskan bahwa seorang kader daiyah tidak cukup hanya memahami ilmu agama, tetapi juga harus mampu membaca dinamika sosial masyarakat, khususnya persoalan perempuan dan generasi muda.

“Perempuan hari ini harus hadir sebagai solusi. Kader Fatayat harus mampu menjawab tantangan zaman dengan cara yang santun, cerdas, dan penuh empati,” ujarnya di hadapan peserta.

Ia menjelaskan bahwa kemampuan komunikasi menjadi bekal penting bagi seorang daiyah agar pesan dakwah dapat diterima secara efektif oleh masyarakat. Dalam kesempatan tersebut, ia mengaitkan dakwah dengan teori retorika Aristoteles yang menekankan tiga unsur utama komunikasi, yakni ethos, pathos, dan logos.

Menurutnya, ethos berkaitan dengan kemampuan membangun kepercayaan melalui sikap dan tutur kata yang baik. Sementara pathos menekankan pentingnya empati dan kemampuan menyentuh sisi emosional masyarakat. Adapun logos mengacu pada penyampaian pesan yang logis, rasional, dan dapat dipertanggungjawabkan berdasarkan ilmu pengetahuan maupun realitas sosial.

Selain penguatan komunikasi, Khilma Anis juga mengajak kader Fatayat untuk membangun kemandirian melalui pendidikan, pengalaman organisasi, serta keberanian mengembangkan potensi diri. Ia menilai perempuan muda NU memiliki peluang besar menjadi agen perubahan apabila mampu memadukan nilai keislaman dengan wawasan modern.

Dalam sesi lainnya, peserta juga dikenalkan pada filosofi komunikasi Jawa “Toto, Titi, Titis, Tatak, dan Tutuk” sebagai pedoman membangun karakter dan etika dakwah di tengah masyarakat.

Konsep tersebut mengajarkan pentingnya menata niat (toto), bersikap teliti (titi), menyampaikan pesan secara tepat sasaran (titis), memiliki mental yang kuat (tatak), serta menghadirkan dampak nyata dalam dakwah (tutuk).

Para peserta terlihat antusias mengikuti sesi diskusi dan berbagi pengalaman selama kegiatan berlangsung. Banyak di antara mereka mengaku termotivasi untuk terus meningkatkan kapasitas diri sebagai kader perempuan Nahdlatul Ulama yang aktif, adaptif, dan berdaya saing.

Melalui kegiatan ini, Fatayat NU berharap lahir kader-kader daiyah yang mampu menghadirkan dakwah Islam moderat, ramah, dan relevan dengan kebutuhan masyarakat di era digital.

Kontributor: Faiqotul Munawaroh
Editor: Nasilah

0Shares

Similar Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *