Fatayat NU Mayang dalam Harlah 100 Tahun Nahdlatul Ulama: Satu Abad Khidmah, Merajut Toleransi untuk Indonesia
Fatayatnujember.com- Peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-100 Nahdlatul Ulama yang digelar di Stadion Gajayana, Kota Malang, pada 7–8 Februari 2026 berlangsung khidmat dan meriah. Momentum satu abad organisasi Islam terbesar di Indonesia ini menjadi tonggak sejarah penting, tidak hanya bagi warga nahdliyin, tetapi juga bagi perjalanan bangsa dalam merawat persatuan di tengah keberagaman.
Perayaan akbar tersebut turut dihadiri Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, sebagai bentuk penghormatan dan apresiasi negara terhadap kontribusi NU dalam menjaga stabilitas nasional, memperkuat moderasi beragama, serta meneguhkan nilai-nilai kebangsaan sejak masa perjuangan kemerdekaan hingga era modern.
Rangkaian kegiatan dihadiri oleh seluruh Badan Otonom NU dari berbagai daerah di Indonesia. Salah satunya adalah Fatayat Nahdlatul Ulama yang tampil sebagai representasi perempuan muda NU yang progresif dan berdaya. Keterlibatan Fatayat menunjukkan peran strategis perempuan dalam mengawal nilai keislaman yang moderat sekaligus memperkuat semangat kebangsaan.
Fatayat NU Mayang turut ambil bagian dalam perhelatan nasional tersebut. Kehadiran mereka menjadi simbol partisipasi kader di tingkat akar rumput yang berkontribusi aktif hingga panggung nasional, membawa semangat khidmah dan komitmen terhadap kemaslahatan umat.
Suasana peringatan Harlah ke-100 NU di Malang juga diwarnai dengan atmosfer toleransi yang kuat. Masyarakat lintas agama di Kota Malang turut menjaga ketertiban dan keamanan selama acara berlangsung. Harmoni sosial yang terbangun mencerminkan wajah Indonesia yang majemuk serta sejalan dengan semangat Islam rahmatan lil ‘alamin yang selama ini diusung NU.
Bagi Fatayat NU Mayang, satu abad NU bukan sekadar perayaan seremonial, melainkan momentum refleksi dan penguatan peran perempuan muda dalam merawat persaudaraan, menyebarkan nilai moderasi beragama, serta membangun dialog di tengah masyarakat yang plural. Toleransi, bagi mereka, adalah praktik nyata dalam kehidupan sosial, bukan sekadar wacana.
Harlah ke-100 NU sekaligus menjadi penegasan bahwa kekuatan organisasi terletak pada keikhlasan berkhidmah, kesetiaan terhadap tradisi, serta komitmen menjaga persatuan bangsa di tengah perbedaan keyakinan dan budaya.
Dirgahayu ke-100 Nahdlatul Ulama.
Merawat Jagat, Membangun Peradaban.
Kontributor : Nur Amalia Anggraini
Editor: Nasilah

