Santri sebagai Pandangan Hidup, Bukan Sekadar Identitas
Fatayatnujember.com- Semangat kebersamaan dan nilai spiritualitas mewarnai kegiatan yang digelar di Pondok Pesantren Miftahul Ulum, Desa Wirowongso, Kecamatan Ajung, Kabupaten Jember, pada Ahad (12/4/2026). Acara yang diikuti santri dan alumni ini menjadi ajang silaturahmi sekaligus penguatan nilai-nilai keislaman di tengah masyarakat.
Rangkaian kegiatan diawali dengan pembacaan Burdah yang dilantunkan secara bersama-sama. Syair pujian kepada Nabi Muhammad SAW tersebut menghadirkan suasana khidmat dan penuh kekhusyukan di lingkungan pesantren. Para peserta tampak larut dalam setiap lantunan, mencerminkan kecintaan mendalam kepada Rasulullah.
Kegiatan dilanjutkan dengan pembacaan Maulid Diba’, tradisi yang telah mengakar di lingkungan pesantren sebagai bentuk penghormatan kepada Nabi Muhammad SAW. Selain sebagai amalan rutin, kegiatan ini juga menjadi sarana penanaman nilai-nilai keislaman serta penguatan karakter religius para santri.
Memasuki acara inti, pengasuh pondok pesantren, Ustadz H. Dairobi Naji, menyampaikan tausiyah yang menekankan pentingnya peran santri dalam kehidupan bermasyarakat. Ia menegaskan bahwa santri bukan sekadar identitas bagi mereka yang pernah menempuh pendidikan di pesantren, melainkan sebuah pandangan hidup yang membentuk pola pikir, sikap, dan perilaku.
“Santri adalah nilai yang hidup dalam keseharian, berlandaskan Al-Qur’an dan Hadis, serta tercermin dalam akhlak,” ujarnya.
Menurutnya, nilai-nilai kesantrian seperti tawadhu’, kesabaran, keikhlasan, dan tanggung jawab menjadi fondasi penting dalam membangun kehidupan sosial yang harmonis. Selain itu, tradisi keilmuan seperti membaca kitab, berdiskusi, dan menghormati guru turut membentuk karakter santri yang adaptif terhadap perkembangan zaman.
Ia juga menekankan pentingnya keseimbangan antara kehidupan dunia dan akhirat. Santri, kata dia, tidak hanya dituntut mengejar kesuksesan material, tetapi juga keberkahan hidup sebagai tujuan utama.
Dalam pesannya, Ustadz Dairobi mengingatkan para santri dan alumni untuk menjaga identitas kesantrian dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk sikap, perilaku, dan cara berpakaian. Santri diharapkan mampu menjadi teladan di tengah masyarakat serta menjaga marwah pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam.
“Jagalah sholat, jagalah aurat, dan jagalah keluargamu,” pesannya.
Kegiatan ditutup dengan halal bihalal yang berlangsung hangat. Para santri dan alumni saling bersalaman dengan pengasuh pesantren sebagai bentuk penghormatan dan penguatan ikatan kekeluargaan.
Acara ini tidak hanya menjadi ajang temu kangen, tetapi juga momentum memperkokoh nilai spiritual dan identitas kesantrian. Diharapkan, para santri dan alumni terus menjaga tradisi keilmuan serta akhlak mulia dalam menghadapi tantangan zaman.
Kontributor: Faiqotul Munawaroh
Editor: Nasilah

