Detak Jantung Harapan
Fatayatnujember.com- Suara tangis yang melengking dari bayi mungilku seketika membuat rasa sakit di seluruh tubuhku menghilang. Bayi perempuan nan cantik bak mentari telah lahir ke dunia ini. Kulihat senyum bahagia dari seluruh keluargaku, tak kalah dengan rasa bahagia yang kurasakan sendiri.
Seiring berjalannya waktu, bayi mungilku tumbuh dengan sehat, meskipun dari pantauan dunia medis tergolong anak dengan pertumbuhan yang tidak sesuai grafik. Namun, kondisi jasmaninya sangat sehat, ceria, dan jarang sakit. Sejak lahir, aku merasakan ada yang aneh dengan detak jantungnya—tidak sama dengan detak jantung bayi pada umumnya. Ibu dan keluargaku mengatakan bahwa hal itu normal, tidak perlu khawatir.
Sampai pada usianya yang menginjak tiga tahun, detak jantungnya ketika kupegang di tangan terasa bergetar. Atas saran seorang teman, aku membawa malaikat kecilku ke dokter anatomi tubuh.
Saat menunggu dokter, putri kecilku dengan wajah polosnya bertanya kepadaku, “Mah, kenapa Alby dibawa ke Pak Dokter? Alby tidak akan disuntik kan? Alby takut jarum suntik.”
Aku tersenyum menanggapi pertanyaannya. “Tidak kok, Alby tak akan diapa-apakan sama Pak Dokter, hanya diperiksa agar Alby, cantiknya Mama, tambah sehat dan kuat.”
Tak lama kemudian, nama Alby dipanggil, dan mulailah putriku diperiksa. Saat tangan dokter sampai di dadanya, beliau berhenti lama, seakan mengekspresikan ada sesuatu yang berbeda. Hatiku berdebar-debar tak karuan memperhatikan ekspresi dokter setengah baya itu.
Beberapa saat kemudian, dengan wajah tenangnya dokter berkata, “Emm, begini, Ibu. Berdasarkan hasil pemeriksaan yang saya lakukan, dugaan sementara putri Ibu ada kelainan jantung.”
Mendengar penuturan dokter, kepalaku rasanya kosong. Aku melongo menatap dokter, lalu bertanya, “Maksudnya, Dok? Ada apa dengan jantung anak saya?”
“Anak Ibu ada penyakit jantung bawaan, lebih gampangnya disebut jantung bocor. Untuk lebih jelasnya, saya beri rujukan ke dokter jantung, ya, Bu, untuk pemeriksaan lebih lanjut,” kata dokter itu.
Keluar dari ruangan dokter, dua kata terus terngiang di kepalaku—jantung bocor. Dunia seakan runtuh. Kaki terasa lemas, kepala berputar, hingga akhirnya air mata tak mampu kubendung. Tangisku pecah. Alby ikut menangis melihatku.
“Mamah kenapa menangis? Pak Dokter jahatin Mamah?” tanyanya polos.
Untuk menguatkan hati, kupeluk erat Albyku. Kulekatkan tanganku di dadanya. Dalam hati, aku mengadu kepada Sang Rabb, “Ya Allah, ujian atau tegurankah ini? Kenapa harus putri sekecil ini, ya Allah? Pindahkanlah penyakit putriku padaku, ya Allah.”
Kukendarai motor tuaku untuk pulang, sementara pikiranku melayang entah ke mana. Sesampainya di rumah, kuceritakan semuanya kepada keluargaku. Mereka terkejut, terutama ibuku. Beliau langsung menjerit histeris karena Alby adalah cucu pertama dan kesayangannya.
Salah satu saudaraku menyarankan agar aku memeriksakan Alby ke dokter lain. Siapa tahu diagnosisnya berbeda. Aku menuruti saran itu.
Kudatangi seorang dokter umum tidak jauh dari rumah. Dokter muda cantik yang terkenal dengan diagnosisnya yang hampir selalu tepat. Sesampainya di tempat praktik, giliran Alby dipanggil. Kami pun masuk dengan dada berdebar.
Aku menceritakan semuanya kepada dokter muda itu. “Ah, masa sih, Bu? Dikatakan jantungnya bocor, padahal anaknya lincah, aktif, dan tak terlihat sakit,” katanya. “Sini, Bu, Dokter periksa dulu, ya.”
Baru saja dokter meletakkan alat periksa di dada Alby, beliau langsung berkata, “Ah, benar, Bu. Jantungnya memang bocor. Coba Ibu dekat sini.”
Beliau menempelkan alat periksa di telingaku. “Seperti suara gerojokan air, kan, Bu?”
Ku perhatikan wajah putri mungilku—wajah suci tanpa dosa yang selalu ceria, tanpa tahu bahwa kami sedang membicarakan nasib hidupnya.
Dokter melanjutkan, “Di dalam jantung itu ada empat bagian, Bu: serambi kanan, serambi kiri, bilik kanan, dan bilik kiri. Keempat bagian itu memiliki sekat. Nah, bisa jadi yang bocor adalah sekat jantungnya. Tapi untuk memastikannya, ade harus dibawa ke spesialis jantung untuk dilakukan ekokardiografi atau rekam jantung. Biasanya pasien dengan jantung bocor harus menjalani operasi penambalan. Jika tidak dilakukan operasi, menurut prediksi, umur bertahannya hanya 20–25 tahun. Tapi itu hanya perkiraan manusia. Allah-lah yang menentukan umur seseorang. Ibu bangun malam, mohon keajaiban kepada Tuhan.”
Mendengar penuturan dokter itu, telingaku berdengung. Kata “maksimal umur 25 tahun” terus terngiang. Hati, pikiran, dan jantungku seolah berhenti bekerja. Dalam perjalanan pulang, air mata tak henti-hentinya mengalir di pipiku.
Setiap detak jantungku seolah mengingatkanku pada putri kecilku yang sedang berjuang. Di rumah, aku berusaha kuat di hadapan Alby, tetapi setiap kali melihat wajah cerianya, air mata kembali menetes.
Hari-hari berlalu. Kami menjalani berbagai pemeriksaan dan konsultasi dokter spesialis. Prosesnya melelahkan, tetapi aku tahu, semua ini demi kebaikan Alby. Di tengah ketidakpastian, ada harapan yang kupelihara: keajaiban bisa datang kapan saja.
Namun, di tengah perjalanan pemeriksaan, ada kalimat dokter yang mematahkan semangatku. Akhirnya aku memutuskan untuk tidak datang ke rumah sakit lagi. Aku memilih menempuh pengobatan alternatif dan memohon doa kepada seorang kiai.
Selama lebih dari satu tahun, Alby mengonsumsi jamu herbal yang kubuat sendiri berdasarkan informasi dari internet, ditambah air doa dari kiai. Meskipun rasa jamunya pahit dan air doa berbau wangi, Alby selalu meminumnya dengan semangat, tanpa tahu bahwa dia memiliki penyakit serius pada organ utamanya. Karena tak tega, akhirnya aku memutuskan menghentikan pengobatan alternatif itu.
Setiap malam aku berdoa tanpa henti, memohon kepada Tuhan agar memberi kekuatan dan kesembuhan untuk putriku. Suatu malam, saat berdoa, terlintas betapa besar cinta dan ketabahan Alby. Meski kecil, ia memiliki semangat luar biasa.
Waktu berlalu hingga Alby berusia sembilan tahun dan duduk di kelas 3 Madrasah Ibtidaiyah. Ia terserang tifus dan harus opname. Saat itulah aku kembali ke dunia medis, di rumah sakit dan dengan dokter yang berbeda.
Ketika dokter memeriksa Alby, beliau berkata, “Bu, anak Ibu ini jantungnya bocor, harus diperiksa dokter jantung.”
Aku hanya tersenyum dan menjawab, “Ya, Dok. Saat dia berusia tiga tahun, dia sudah dikatakan memiliki jantung bocor dan sudah dilakukan ekokardiografi. Tapi saya kecewa dengan penuturan dokter waktu itu, jadi saya abaikan.”
“Lupakan yang sudah berlalu,” katanya lembut. “Sekarang Ibu harus membawa anak Ibu ke dokter spesialis jantung anak di Surabaya, di Rumah Sakit Dr. Soetomo. Nanti saya hubungkan dengan teman saya, dr. Yasa.”
Tahun berganti. Setelah menunggu dua tahun, akhirnya kami mendapat jadwal operasi. Hari itu, rasa takut bercampur harapan. Saat mengantarnya ke ruang operasi, kulihat wajah Alby tetap ceria. Ia tampak percaya diri, seolah berkata bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Di ruang tunggu, waktu terasa berjalan sangat lambat. Namun ketika dokter keluar dan memberitahu bahwa operasi berjalan lancar, rasa lega seketika mengalir dalam diriku. Aku segera berlari menuju ruang pemulihan untuk melihat Alby.
Ia terbangun dengan lemah, tetapi senyumnya tetap ada. “Mamah, Alby sudah jadi superhero!” katanya dengan semangat.
Dalam hatiku, aku kagum pada kekuatan dan keteguhan putriku. Sejak hari itu, perjalanan kami belum berakhir. Kami masih menjalani pemulihan dan kontrol berkala. Namun setiap langkah terasa lebih ringan. Alby mengajarkanku arti keteguhan dan cinta tanpa syarat.
Kini kami semakin dekat. Dalam setiap detak jantungnya, ada kekuatan luar biasa—sebuah kisah tentang cinta, harapan, dan keajaiban yang selalu kami syukuri.
Seiring waktu, Alby semakin pulih. Keceriaannya kembali, dan rasa takut perlahan menghilang. Kami menjalani terapi dan berbagai kegiatan sesuai jadwal dokter. Setiap momen bersamanya menjadi berharga.
Aku mulai berbagi cerita dengan para ibu di komunitas, membagikan kekuatan dan harapan yang kami rasakan. Banyak orang tua mengalami hal serupa, dan kami saling menguatkan.
Saat kontrol berikutnya, dokter memuji perkembangan Alby. “Jantungnya sudah bagus, Bu. Dan yang terpenting, semangatnya sangat menular.”
Mendengar itu, hatiku lega. Keberanian Alby menjadi inspirasi bagi banyak orang di sekitarnya.
Malam-malam yang dulu penuh kecemasan kini berganti dengan tawa. Kami sering duduk di teras, memandang bintang-bintang, berbicara tentang impiannya. “Aku ingin jadi dokter, Mah, biar bisa bantu anak-anak lain yang sakit,” katanya.
Hatiku bergetar mendengarnya. Kami tahu jalan ini belum sepenuhnya mulus, tetapi bersama-sama kami siap menghadapi apa pun. Alby mengajarkanku bahwa cinta dan harapan bisa mengalahkan ketakutan.
Dari perjalanan ini, aku belajar bahwa cinta adalah kekuatan luar biasa—mampu menerangi kegelapan dan membawa harapan di setiap langkah. Dalam hati kami, selalu ada pelangi yang bersinar, mengingatkan bahwa setelah hujan pasti ada cahaya.
Kini hidup kami penuh warna dan semangat. Setiap tawa Alby adalah bukti bahwa keajaiban itu nyata. Ia bukan hanya anakku, tetapi juga sumber kekuatan dan cahaya dalam hidupku.
(Kisah nyata Sahabat Umi Fifiniyah, seorang ibu tangguh yang berjuang mendampingi putrinya melawan penyakit jantung bawaan).
Penulis: Umi Fifiniyah
Editor: Yulis Sri Wahyuningsih

