Semarak Jelbuk Bersholawat: Teguhkan Tradisi Santri di Tengah Arus Digitalisasi
Fatayatnujember.com- Ribuan masyarakat dari berbagai penjuru Kecamatan Jelbuk dan sekitarnya, bahkan dari luar Kota Jember, tumpah ruah di Lapangan Jelbuk, Jember, dalam acara “Jelbuk Bersholawat: Mempertahankan Budaya Santri di Era Digitalisasi.” Kegiatan ini digelar dalam rangka Haul Masyayikh Sukorejo dan peringatan Hari Santri Nasional 2025 pada Sabtu malam Minggu (1 November 2025). Acara yang penuh semangat religius dan kebersamaan ini diselenggarakan oleh IKSASS Sub Rayon Jelbuk Jember bekerja sama dengan Pemerintah Desa Jelbuk serta masyarakat setempat. Kegiatan tersebut juga mendapat dukungan penuh dari Warung Elok Jelbuk, yang selama ini aktif mendukung kegiatan sosial dan keagamaan di wilayah Jelbuk.
Hadir dalam kesempatan istimewa tersebut, Gurunda KH. Raden Achmad Azaim Ibrahimy, Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo, bersama JS Bhenning Sokarajjeh, yang turut memimpin lantunan sholawat dengan khidmat. Keduanya menjadi magnet utama bagi ribuan jamaah yang datang dengan penuh antusias untuk bersholawat dan mendapatkan berkah serta nasihat keagamaan.
Acara berlangsung meriah dan penuh kekhusyukan. Lantunan sholawat menggema memenuhi lapangan, menciptakan suasana spiritual yang hangat di tengah masyarakat. Tak hanya masyarakat umum, Pimpinan Anak Cabang (PAC) dan Pimpinan Ranting Fatayat NU Jelbuk juga turut berperan aktif sebagai panitia penyelenggara. Mereka memastikan jalannya acara berlangsung tertib, aman, dan penuh makna bagi seluruh jamaah.
Dalam mauidzah hasanah-nya, KH. Raden Achmad Azaim Ibrahimy berpesan kepada seluruh jamaah untuk senantiasa menjaga negeri, Nahdlatul Ulama, dan pesantren sebagai benteng moral dan spiritual bangsa. Beliau menekankan pentingnya peran santri di tengah arus digitalisasi yang kian pesat agar tidak kehilangan jati diri dan nilai-nilai keislaman yang rahmatan lil ‘alamin.
“Di era digital ini, santri harus mampu beradaptasi tanpa meninggalkan tradisi. Jagalah negeri ini dengan ilmu, jagalah NU dengan pengabdian, dan jagalah pesantren dengan cinta,” tutur KH. Azaim disambut takbir dan sholawat dari ribuan jamaah.
Kegiatan “Jelbuk Bersholawat” ini tidak hanya menjadi ajang memperkuat tali silaturahmi antarwarga, tetapi juga sebagai bentuk nyata pelestarian budaya santri di tengah kemajuan teknologi. Masyarakat berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan secara rutin sebagai sarana dakwah, kebersamaan, dan penguatan nilai-nilai keislaman di bumi Jelbuk.
Kontributor: Rohmah Nurul Faiqoh
Editor: Nurul Infitah

