Ketika Canda Menjadi Rasa

Fatayatnujember.com- Berawal dari candaan teman-teman sekantor, mulailah tumbuh benih-benih rasa di dalam dada. Setiap langkah terasa indah kala kutatap wajahnya. Tawa yang awalnya hanya singgah sebentar kini menetap lebih lama di pikiranku. Setiap kali namanya disebut dalam guyonan, jantungku justru berdetak lebih cepat, seolah takut ada yang membaca rahasia yang mulai tumbuh diam-diam.

Kami menertawakan lelucon yang sama, saling melempar ejekan ringan yang tak pernah benar-benar melukai. Namun di sela-sela canda itu, ada jeda-jeda sunyi yang terasa berbeda. Tatapan yang terlalu lama, perhatian yang tak lagi sekadar basa-basi. Aku mulai bertanya pada diri sendiri: ini masih candaan, atau perasaanku yang terlalu jauh melangkah?

Drama pun mulai muncul saat candaan orang-orang semakin menjadi. Semua teman sekantor sangat mendukung terciptanya hubungan di antara kami. Keraguan pun menyelinap dalam hati: apakah pantas membangun sesuatu yang berawal dari senda gurau? Apakah rasa ini cukup kuat untuk berdiri di hadapan realita?

Jarak sempat tercipta. Kami menjaga sikap, menahan tawa, membatasi obrolan. Namun justru di situlah kami sadar, ada ruang kosong yang tak bisa diisi oleh siapa pun. Kehilangan canda itu terasa seperti kehilangan rumah. Pada satu malam yang sunyi, aku akhirnya berani jujur pada diri sendiri: tak apa jika awalnya dianggap guyonan, selama akhirnya diperjuangkan dengan kesungguhan.

Kejujuran pun terucap di antara kami, tanpa tawa, tanpa topeng. Ia mengaku takut, sama sepertiku, takut gagal, takut ditertawakan, takut salah memilih. Namun di balik semua ketakutan itu, ada keyakinan kecil yang sama-sama ingin kami jaga: bahwa rasa ini layak diberi kesempatan.

Waktu berjalan, candaan berubah menjadi doa, perhatian menjelma komitmen. Kami belajar meyakinkan diri masing-masing bahwa cinta tak selalu lahir dari kisah yang sempurna. Kadang ia tumbuh dari tawa yang sederhana, dari guyonan yang tak disengaja.

Hingga tibalah suatu hari, di hadapan keluarga dan doa-doa yang tulus, ia menggenggam tanganku dengan tangan yang dulu sering menunjukku sambil bercanda. Tak ada lagi keraguan di matanya, hanya keyakinan yang tenang. Pertunangan itu menjadi saksi bahwa hubungan yang pernah dianggap guyonan nyatanya mampu bertumbuh menjadi janji.

Dan aku pun tersenyum, menyadari satu hal: tidak apa-apa jika cinta datang dari candaan, selama kita berani mengubahnya menjadi keseriusan.

Cerita ini diambil dari kisah nyata seorang sahabat, yang kemudian dituturkan kembali melalui balutan imajinasi dan penghayatan penulis.

Kontributor: Umi Fifinyah
Editor: Yulis Sri Wahyuningsih

0Shares

Similar Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *